Jan 8, 2026

Unifikasi Taiwan: Siapa Yang Bakal Di"Madurokan"- Lai Ching Tie atau Xi-Jinping

 


Oleh Harmen Batubara

Dunia hari ini sedang menahan napas. Di tengah gemuruh perkembangan teknologi dan pergeseran kekuatan global, sebuah narasi lama kembali menyeruak ke permukaan dengan intensitas yang lebih dingin sekaligus membara: masa depan Taiwan. Ini bukan sekadar isu kedaulatan, melainkan babak akhir dari sebuah "dendam kesumat" sejarah yang belum tuntas.

Akar Sejarah Satu Bangsa, Dua Jalan

Sejarah mencatat bahwa perpisahan China daratan dan Taiwan bermula dari pertarungan ideologi yang sengit antara Komunisme dan Demokrasi. Keduanya bertarung demi satu visi: kesejahteraan rakyat China. Saat demokrasi (Kuomintang) terdesak dan menyeberang ke Taiwan, dunia mengira itu adalah akhir.

Namun, realitas menunjukkan hal yang di luar dugaan. Di bawah sistem yang berbeda, kedua entitas ini sama-sama berhasil mencapai puncak kemakmuran. China daratan bertransformasi menjadi adi daya ekonomi dan militer yang mengguncang dominasi Barat, sementara Taiwan menjelma menjadi "naga kecil" Asia yang menguasai rantai pasok semikonduktor dunia. Keduanya makmur, namun keduanya tetap terpisah oleh selat yang sempit sekaligus jurang ideologi yang dalam.


2026 Ambisi Xi Jinping dan Kalkulasi Baru

Memasuki tahun 2026, Presiden Xi Jinping kembali menegaskan pesan yang kian mendesak: Taiwan adalah bagian tak terpisahkan dari China, dan unifikasi adalah keniscayaan sejarah. Bagi Beijing, membiarkan Taiwan tetap mandiri adalah luka sejarah yang menganga.

Namun, unifikasi kini tidak lagi dihitung hanya dengan jumlah kapal perang atau jet tempur. Ada variabel baru dalam perang urat syaraf ini: "Efek Maduro".

Perspektif Taiwan: Di Taipei, penangkapan atau tekanan ekstrem internasional terhadap tokoh seperti Maduro (Venezuela) menjadi simbol harapan bahwa komunitas internasional, dipimpin Amerika Serikat, memiliki kekuatan untuk menekan pemimpin otoriter. Muncul spekulasi berani bahwa AS sewaktu-waktu dapat "me-Maduro-kan" Xi Jinping melalui isolasi total atau tekanan hukum internasional.

Perspektif Beijing: Sebaliknya, Beijing melihat kartu ini dengan cara yang jauh lebih pragmatis. Dengan kekuatan ekonomi dan pengaruhnya di kawasan, China merasa jauh lebih mudah untuk "me-Maduro-kan" Lai Ching-te—mengisolasi Taiwan secara diplomatik, mencekik ekonominya, dan menjadikannya pemimpin yang tidak diakui oleh dunia internasional sebelum unifikasi fisik terjadi.

Realitas Regional dan Global

Secara regional, unifikasi paksa melalui perang akan menjadi kiamat bagi ekonomi Asia Tenggara dan Timur. Laut China Selatan akan membara, dan jalur perdagangan global akan lumpuh. Secara global, dunia tidak siap kehilangan pasokan teknologi dari Taiwan, namun dunia juga tidak mampu menghadapi konfrontasi langsung dengan kekuatan nuklir China.

Dendam kesumat yang telah berumur lebih dari 70 tahun ini kini berada di persimpangan jalan:

Jalan Damai: Memerlukan konsesi raksasa yang saat ini tampak mustahil bagi kedua belah pihak.

Jalan Perang: Sebuah pertaruhan "semua atau tidak sama sekali" yang bisa menghancurkan kemakmuran yang telah dibangun susah payah oleh kedua belah pihak.

Yang Ingin Kita Ingatkan

Unifikasi Taiwan bukan lagi soal siapa yang benar atau salah secara sejarah, melainkan soal apakah ego politik dan dendam masa lalu akan mengalahkan akal sehat demi keberlangsungan peradaban. China sudah kuat, Taiwan sudah makmur. Pertanyaannya, apakah mereka bersedia mempertaruhkan semua kemakmuran itu demi satu garis di atas peta?




No comments:

Post a Comment