Oleh Harmen Batubara
Dunia hari ini sedang menahan napas. Di tengah
gemuruh perkembangan teknologi dan pergeseran kekuatan global, sebuah narasi
lama kembali menyeruak ke permukaan dengan intensitas yang lebih dingin
sekaligus membara: masa depan Taiwan. Ini bukan sekadar isu kedaulatan,
melainkan babak akhir dari sebuah "dendam kesumat" sejarah yang belum
tuntas.
Akar Sejarah
Satu Bangsa, Dua Jalan
Sejarah mencatat bahwa perpisahan China daratan dan
Taiwan bermula dari pertarungan ideologi yang sengit antara Komunisme dan
Demokrasi. Keduanya bertarung demi satu visi: kesejahteraan rakyat China.
Saat demokrasi (Kuomintang) terdesak dan menyeberang ke Taiwan, dunia mengira
itu adalah akhir.
Namun, realitas menunjukkan hal yang di luar
dugaan. Di bawah sistem yang berbeda, kedua entitas ini sama-sama berhasil
mencapai puncak kemakmuran. China daratan bertransformasi menjadi adi daya ekonomi dan militer yang mengguncang dominasi
Barat, sementara Taiwan menjelma menjadi "naga kecil" Asia yang
menguasai rantai pasok semikonduktor dunia. Keduanya makmur,
namun keduanya tetap terpisah oleh selat yang sempit sekaligus jurang ideologi
yang dalam.
2026 Ambisi
Xi Jinping dan Kalkulasi Baru
Memasuki tahun 2026, Presiden Xi Jinping kembali
menegaskan pesan yang kian mendesak: Taiwan adalah bagian tak
terpisahkan dari China, dan unifikasi adalah keniscayaan sejarah.
Bagi Beijing, membiarkan Taiwan tetap mandiri adalah luka sejarah yang
menganga.
Namun, unifikasi kini tidak lagi dihitung hanya
dengan jumlah kapal perang atau jet tempur. Ada variabel baru dalam perang urat
syaraf ini: "Efek Maduro".
Perspektif Taiwan: Di Taipei, penangkapan atau tekanan ekstrem internasional terhadap
tokoh seperti Maduro (Venezuela) menjadi simbol harapan bahwa komunitas
internasional, dipimpin Amerika Serikat, memiliki kekuatan untuk menekan
pemimpin otoriter. Muncul spekulasi berani bahwa AS sewaktu-waktu dapat "me-Maduro-kan"
Xi Jinping melalui isolasi total atau tekanan hukum internasional.
Perspektif Beijing: Sebaliknya, Beijing melihat kartu ini dengan cara yang jauh lebih
pragmatis. Dengan kekuatan ekonomi dan pengaruhnya di kawasan, China merasa
jauh lebih mudah untuk "me-Maduro-kan" Lai Ching-te—mengisolasi
Taiwan secara diplomatik, mencekik ekonominya, dan menjadikannya pemimpin yang
tidak diakui oleh dunia internasional sebelum unifikasi fisik terjadi.
Realitas
Regional dan Global
Secara regional, unifikasi paksa melalui perang
akan menjadi kiamat bagi ekonomi Asia Tenggara dan Timur. Laut China Selatan
akan membara, dan jalur perdagangan global akan lumpuh. Secara global, dunia
tidak siap kehilangan pasokan teknologi dari Taiwan, namun dunia juga tidak mampu
menghadapi konfrontasi langsung dengan kekuatan nuklir China.
Dendam kesumat yang telah berumur lebih dari 70
tahun ini kini berada di persimpangan jalan:
Jalan Damai: Memerlukan
konsesi raksasa yang saat ini tampak mustahil bagi kedua belah pihak.
Jalan Perang: Sebuah
pertaruhan "semua atau tidak sama sekali" yang bisa menghancurkan
kemakmuran yang telah dibangun susah payah oleh kedua belah pihak.
Yang Ingin
Kita Ingatkan
Unifikasi Taiwan bukan lagi soal siapa yang benar
atau salah secara sejarah, melainkan soal apakah ego politik dan dendam masa
lalu akan mengalahkan akal sehat demi keberlangsungan peradaban. China sudah
kuat, Taiwan sudah makmur. Pertanyaannya, apakah mereka bersedia mempertaruhkan
semua kemakmuran itu demi satu garis di atas peta?



No comments:
Post a Comment