Nov 30, 2025

Banjir Siklon Senyar Sumatera Memperlihatkan Indonesia Belum Siap Menghadapi Bencana

 


Oleh  Harmen Batubara

Ketika Siklon Senyar menghantam Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025, Indonesia kembali diingatkan pada satu kenyataan pahit: kita belum siap menghadapi bencana besar yang sifatnya tidak terduga. Peristiwa yang melanda tiga provinsi itu bukan sekadar bencana alam biasa, tetapi menunjukkan celah besar dalam sistem mitigasi, deteksi dini, dan respons darurat Indonesia.

Siklon Senyar datang tanpa sinyal kuat. Para ahli meteorologi tak melihat tanda-tanda yang lazim muncul sebelum badai besar berkembang. Bahkan, menurut Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma Yulihastin, fenomena ini adalah peristiwa sangat langka karena siklon tropis hampir tidak pernah terbentuk di wilayah khatulistiwa. Ketidaksiapan ini membuat dampaknya berlipat ganda.

Siklon Senyar: Ketidakterdugaan yang Menghancurkan

Banjir siklonik ini meluluhlantakkan kehidupan masyarakat di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Curah hujan ekstrem yang dibawa angin siklon membuat sungai-sungai meluap dan lereng bukit runtuh, berubah menjadi “monster” yang menghancurkan rumah, jalan, jembatan, dan apa pun yang dilaluinya.

Hingga 29 November 2025, korban jiwa telah mencapai 303 orang di tiga provinsi, dan ratusan lainnya masih hilang:

  • Aceh: 47 meninggal, 51 hilang
  • Sumatera Utara: 166 meninggal, 143 hilang
  • Sumatera Barat: 90 meninggal, 85 hilang

Angka ini diyakini akan bertambah seiring pencarian yang masih berlangsung. Akses yang terputus menyebabkan banyak wilayah belum tersentuh pencatatan resmi.

Transportasi lumpuh total. Jalan antarprovinsi dan antarkabupaten tertutup longsor, jembatan utama runtuh, dan beberapa daerah terisolasi berhari-hari. Listrik padam, jaringan internet hilang, dan pasokan pangan terganggu. Warga terjebak tanpa akses informasi dan logistik.

Pemda dan Pemerintah Pusat telah menurunkan bantuan secara maksimal—personel, perlengkapan darurat, tenda, suplai medis, dan makanan dikirim lewat udara, laut, dan darat. Masa tanggap darurat ditetapkan 14 hari, memastikan seluruh kebutuhan warga ditanggung pemerintah. Namun, bencana ini tetap menjadi cermin penting bahwa sistem peringatan dan mitigasi kita masih jauh dari ideal.

 


Jika Dibandingkan dengan Asia Tenggara: Indonesia Harus Belajar Lebih Cepat

Bencana ekstrem juga terjadi di kawasan Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir. Di sinilah kita bisa melihat betapa negara-negara tetangga merespons fenomena serupa dengan kesiapan yang lebih matang:

1. Filipina – Protokol Siklon yang Sangat Ketat

Filipina sudah terbiasa dihantam topan besar. Setiap tahun mereka menghadapi 15–20 topan. Respons mereka jauh lebih terstruktur:

  • Sistem peringatan dini multi-level (Signal No. 1–5).
  • Evakuasi massal diputuskan otomatis berdasarkan kategori badai.
  • Tempat evakuasi standar nasional sudah dibangun permanen.

Meski korban tetap ada, kesiapan sosial dan institusional mereka mengurangi dampak jauh lebih besar.

2. Vietnam – Jalur Evakuasi dan Manajemen Sungai

Vietnam yang sering dilanda badai Laut China Selatan memiliki sistem terintegrasi antara:

  • Pembangunan jalur evakuasi cepat,
  • Penguatan tanggul sungai,
  • Pencegahan tebing runtuh dengan reforestasi dan penguatan struktur tanah.

Kerusakan sering terjadi, tetapi korban jiwa dapat ditekan lewat mitigasi berbasis tata ruang.

3. Thailand – Manajemen Banjir Kota dan Early Warning Terpusat

Thailand mengembangkan Flood Management Center berstandar militer, menghubungkan data curah hujan, radar cuaca, hingga sensor sungai.
Sistem ini memungkinkan prediksi banjir dan peringatan publik yang lebih akurat.

Indonesia: Negara Bencana yang Belum Bertransformasi

Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko bencana paling tinggi di dunia—tsunami, gempa, gunung berapi, banjir bandang, dan kini siklon tropis sekalipun. Namun sistem mitigasi masih terfragmentasi:

  • Kolaborasi data antara BMKG, BRIN, dan BNPB belum sepenuhnya real-time.
  • Prosedur early warning masih lambat dan kurang menjangkau masyarakat di daerah terpencil.
  • Infrastruktur tanggul, drainase, dan stabilisasi lereng di banyak wilayah sangat minim.
  • Pemukiman warga masih berada di zona-zona rawan karena tata ruang yang tidak tegas.
  • Edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana masih terbatas.

Siklon Senyar bukan hanya bencana alam, tetapi juga bencana sistem.


Rekomendasi untuk Masa Depan: Membangun Indonesia yang Tangguh Bencana

Agar tragedi seperti Siklon Senyar tidak berulang dengan dampak sebesar ini, Indonesia perlu melakukan lompatan besar dalam kesiapan bencana:

1. Modernisasi Sistem Peringatan Dini Berbasis AI dan Data Terpadu

Integrasi:

  • BMKG, BRIN, BNPB, BIG
    dalam satu sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan untuk memprediksi anomali cuaca ekstrem lebih cepat.

2. Infrastruktur Tahan Bencana

  • Rehabilitasi tebing dan hutan di daerah rawan longsor.
  • Penguatan tanggul dan pelebaran sungai.
  • Pemetaan ulang zona rawan sehingga pembangunan tidak lagi mengorbankan keselamatan.

3. Kota dan Desa Tangguh Bencana

Setiap provinsi wajib memiliki:

  • Shelter evakuasi standar nasional.
  • Jalur evakuasi yang teruji.
  • Simulasi bencana massal minimal dua kali setahun.

4. Reformasi Tata Ruang Berbasis Risiko

Hentikan izin permukiman dan industri di wilayah yang rawan bencana berulang.

5. Pendidikan Mitigasi Bencana Sejak Dini

Mulai dari sekolah dasar hingga komunitas desa:

  • Pelatihan evakuasi,
  • Pengetahuan tanda-tanda alam,
  • Cara bertahan dalam kondisi tanpa listrik dan komunikasi.

6. Transparansi Bantuan dan Pemulihan

Bantuan harus tepat sasaran, dan pemulihan pascabencana harus memastikan:

  • Pembangunan rumah permanen bagi warga,
  • Pemulihan mata pencaharian,
  • Pendampingan psikologis korban, terutama anak-anak.

Momentum untuk Berbenah

Siklon Senyar adalah tragedi besar, tetapi juga kesempatan besar untuk melihat kelemahan kita dengan jujur. Walaupun pemerintah daerah dan pusat telah berusaha sebaik mungkin dalam kondisi serba terbatas, bencana ini menunjukkan bahwa Indonesia harus bertransformasi.

Indonesia tak boleh lagi hanya “merespons” bencana. Kita harus memprediksi, mengantisipasi, dan menyiapkan diri.

Siklon Senyar adalah peringatan bahwa cuaca ekstrem akan semakin sering terjadi.
Pertanyaannya: Apakah kita siap untuk yang berikutnya?


No comments:

Post a Comment