Oleh Harmen Batubara
Ketika Siklon Senyar menghantam Aceh, Sumatera Utara,
dan Sumatera Barat pada akhir November 2025, Indonesia kembali diingatkan pada
satu kenyataan pahit: kita belum siap menghadapi bencana besar yang sifatnya
tidak terduga. Peristiwa yang melanda tiga provinsi itu bukan sekadar
bencana alam biasa, tetapi menunjukkan celah besar dalam sistem mitigasi,
deteksi dini, dan respons darurat Indonesia.
Siklon Senyar datang tanpa sinyal kuat. Para ahli
meteorologi tak melihat tanda-tanda yang lazim muncul sebelum badai besar
berkembang. Bahkan, menurut Peneliti Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN, Erma
Yulihastin, fenomena ini adalah peristiwa sangat langka karena siklon
tropis hampir tidak pernah terbentuk di wilayah khatulistiwa. Ketidaksiapan ini
membuat dampaknya berlipat ganda.
Siklon
Senyar: Ketidakterdugaan yang Menghancurkan
Banjir siklonik ini meluluhlantakkan kehidupan
masyarakat di Aceh, Sumut, dan Sumbar. Curah hujan ekstrem yang dibawa angin
siklon membuat sungai-sungai meluap dan lereng bukit runtuh, berubah menjadi
“monster” yang menghancurkan rumah, jalan, jembatan, dan apa pun yang
dilaluinya.
Hingga 29 November 2025, korban jiwa telah
mencapai 303 orang di tiga provinsi, dan ratusan lainnya masih hilang:
- Aceh: 47
meninggal, 51 hilang
- Sumatera Utara: 166
meninggal, 143 hilang
- Sumatera Barat: 90
meninggal, 85 hilang
Angka ini diyakini akan bertambah seiring pencarian yang
masih berlangsung. Akses yang terputus menyebabkan banyak wilayah belum
tersentuh pencatatan resmi.
Transportasi lumpuh total. Jalan antarprovinsi dan
antarkabupaten tertutup longsor, jembatan utama runtuh, dan beberapa daerah
terisolasi berhari-hari. Listrik padam, jaringan internet hilang, dan pasokan
pangan terganggu. Warga terjebak tanpa akses informasi dan logistik.
Pemda dan Pemerintah Pusat telah menurunkan bantuan
secara maksimal—personel, perlengkapan darurat, tenda, suplai medis, dan
makanan dikirim lewat udara, laut, dan darat. Masa tanggap darurat ditetapkan
14 hari, memastikan seluruh kebutuhan warga ditanggung pemerintah. Namun,
bencana ini tetap menjadi cermin penting bahwa sistem peringatan dan mitigasi
kita masih jauh dari ideal.
Jika
Dibandingkan dengan Asia Tenggara: Indonesia Harus Belajar Lebih Cepat
Bencana ekstrem juga terjadi di kawasan Asia Tenggara
dalam beberapa tahun terakhir. Di sinilah kita bisa melihat betapa
negara-negara tetangga merespons fenomena serupa dengan kesiapan yang lebih
matang:
1. Filipina
– Protokol Siklon yang Sangat Ketat
Filipina sudah terbiasa dihantam topan besar. Setiap
tahun mereka menghadapi 15–20 topan. Respons mereka jauh lebih terstruktur:
- Sistem peringatan dini multi-level (Signal No. 1–5).
- Evakuasi massal diputuskan otomatis berdasarkan kategori
badai.
- Tempat evakuasi standar nasional sudah dibangun permanen.
Meski korban tetap ada, kesiapan sosial dan institusional
mereka mengurangi dampak jauh lebih besar.
2. Vietnam
– Jalur Evakuasi dan Manajemen Sungai
Vietnam yang sering dilanda badai Laut China Selatan
memiliki sistem terintegrasi antara:
- Pembangunan jalur evakuasi cepat,
- Penguatan tanggul sungai,
- Pencegahan tebing runtuh dengan reforestasi dan penguatan
struktur tanah.
Kerusakan sering terjadi, tetapi korban jiwa dapat
ditekan lewat mitigasi berbasis tata ruang.
3. Thailand
– Manajemen Banjir Kota dan Early Warning Terpusat
Thailand mengembangkan Flood Management Center
berstandar militer, menghubungkan data curah hujan, radar cuaca, hingga sensor
sungai.
Sistem ini memungkinkan prediksi banjir dan peringatan publik yang lebih
akurat.
Indonesia:
Negara Bencana yang Belum Bertransformasi
Indonesia adalah salah satu negara dengan risiko bencana
paling tinggi di dunia—tsunami, gempa, gunung berapi, banjir bandang, dan kini
siklon tropis sekalipun. Namun sistem mitigasi masih terfragmentasi:
- Kolaborasi data antara BMKG, BRIN, dan BNPB belum
sepenuhnya real-time.
- Prosedur early warning masih lambat dan kurang
menjangkau masyarakat di daerah terpencil.
- Infrastruktur tanggul, drainase, dan stabilisasi lereng di
banyak wilayah sangat minim.
- Pemukiman warga masih berada di zona-zona rawan karena
tata ruang yang tidak tegas.
- Edukasi masyarakat tentang kesiapsiagaan bencana masih
terbatas.
Siklon Senyar bukan hanya bencana alam, tetapi juga
bencana sistem.
Rekomendasi
untuk Masa Depan: Membangun Indonesia yang Tangguh Bencana
Agar tragedi seperti Siklon Senyar tidak berulang dengan
dampak sebesar ini, Indonesia perlu melakukan lompatan besar dalam kesiapan
bencana:
1.
Modernisasi Sistem Peringatan Dini Berbasis AI dan Data Terpadu
Integrasi:
- BMKG, BRIN, BNPB, BIG
dalam satu sistem pemantauan berbasis kecerdasan buatan untuk memprediksi anomali cuaca ekstrem lebih cepat.
2.
Infrastruktur Tahan Bencana
- Rehabilitasi tebing dan hutan di daerah rawan longsor.
- Penguatan tanggul dan pelebaran sungai.
- Pemetaan ulang zona rawan sehingga pembangunan tidak lagi
mengorbankan keselamatan.
3. Kota dan
Desa Tangguh Bencana
Setiap provinsi wajib memiliki:
- Shelter evakuasi standar nasional.
- Jalur evakuasi yang teruji.
- Simulasi bencana massal minimal dua kali setahun.
4.
Reformasi Tata Ruang Berbasis Risiko
Hentikan izin permukiman dan industri di wilayah yang
rawan bencana berulang.
5.
Pendidikan Mitigasi Bencana Sejak Dini
Mulai dari sekolah dasar hingga komunitas desa:
- Pelatihan evakuasi,
- Pengetahuan tanda-tanda alam,
- Cara bertahan dalam kondisi tanpa listrik dan komunikasi.
6.
Transparansi Bantuan dan Pemulihan
Bantuan harus tepat sasaran, dan pemulihan pascabencana
harus memastikan:
- Pembangunan rumah permanen bagi warga,
- Pemulihan mata pencaharian,
- Pendampingan psikologis korban, terutama anak-anak.
Momentum
untuk Berbenah
Siklon Senyar adalah tragedi besar, tetapi juga
kesempatan besar untuk melihat kelemahan kita dengan jujur. Walaupun pemerintah
daerah dan pusat telah berusaha sebaik mungkin dalam kondisi serba terbatas,
bencana ini menunjukkan bahwa Indonesia harus bertransformasi.
Indonesia tak boleh lagi hanya “merespons” bencana. Kita
harus memprediksi, mengantisipasi, dan menyiapkan diri.
Siklon Senyar adalah peringatan bahwa cuaca ekstrem akan
semakin sering terjadi.
Pertanyaannya: Apakah kita siap untuk yang berikutnya?


No comments:
Post a Comment